Mahasiswa adalah batu loncatan dari bangku sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, jadi pemikiranya harus jauh lebih dewasa, lebih serius dalam belajar, dan lebih berwawasan luas, dalam mengahadapi masalah-masalah yang di tempuh di dunia perguruan tinggi. mahasiswa juga harus punya jiwa bisnis yang berbasis teknologi, dalam arti memeulai bisnis yang sederhana duluan, contoh kecil menjual sepatu lewat BBM, itu juga termasuk berbisnis menggunakan teknologi infrmasi masa kini. Fenomena pengangguran yang terjadi di Negara kita merupakan masalah utama yang dihadapi oleh pemerintah. Terhitung banyak jumlah pengangguran yang terus meningkat tiap harinya. Kondisi tersebut disebabkan karena sedikitnya lapangan pekerjaan yang ada saat ini. Tingginya tingkat pengangguran menerminkan bahwa suatu bangsa belum mencapai kesejahteraannya. Lalu bagaimana untuk mengatasi masalah tersebut?
Kegiatan kewirausahaan menjadi penopang untuk mengurangi tingkat pengangguran yang terjadi. Namun sangat disayangkan, unia kewirausahaan di Indonesia sangat tertinggal dengan Negara-negara lain. Mengapa demikian? Karena dunia kewirausahaan di Indonesia lebih mengandalkan otot daripada otak. Kerja keras dibandingkan dengan kerja cerdas.
Dewasa ini kerap kali kita lihat bahwa setiap orang lebih cenderung untuk mencari pekerjaan daripada menciptakan lapangan pekerjaan. Sebagai contoh, fakta yang terjadi banyak sekali lulusan sarjana yang mengikuti tes masuk pegawai negeri sipil. Mereka masih menganggap bahwa menjadi seorang pegawai merupakan langkah utama yang paling tepat untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Membludaknya mahasiswa yang mengikuti tes tersebut bukan merupakan suatu keberhasilan, melainkan masih rendahnya minat mahasiswa untuk berwirausaha. Itulah sebabnya mengapa kegiatan kewirausahaan di Negara kita dikatakan tertinggal dengan Negara lain. Oleh karena itu, perlu adanya pembenahan pola pikir. Baik dikalangan pemerintah maupun masyarakat. Untuk itu, masyarakat khususnya kalangan mahasiswa yang memiliki bekal ilmu dan kreatifitas yang diperoleh di dunia pekuliahaan sebaiknya memiliki mental berwirausaha dibanding menggantungkan hidup dengan mencari pekerjaan bersama dengan pengangguran lain yang mencari pekerjaan pula.
Praktisi atau pelaku bisnis mungkin bisa didayagunakan sebagai salah satu narasumber,tapi belum tentu tepat untuk menjadi dosen (pengampu) matakuliah itu. Sebab, mendidik mahasiswa agar memiliki jiwa entrepreneurship bukanlah sesuatu yang gampang. Diperlukan dosen yang memiliki kemampuan memotivasi orang lain selain juga berjiwa entrepreneurship.
Karena itu, dosen seharusnya memiliki penguasaan praktis tentang psikologi, komu-nikasi/presentasi efektif, dan manajemen bisnis, sekaligus sebagai inspirator bagi mahasiswa untuk mengubah paradigma yang erat melekat dalam diri mahasiswa kita saat ini, yakni mencari pekerjaan (job seeker).
Tentu, dalam berwirausaha modal uang tidak selamanya mutlak dibutuhkan. Berbagai kiat dapat dipelajari dan ditiru dari para pengusaha sukses. Tidak memiliki produk atau barang sendiri bukan berarti kita tidak bisa berwirausaha, karena bisa menjualkan barang orang lain, yaitu berbisnis dengan menggunakan produk (barang) orang lain.
Memang, barang yang sudah berada di tangan tidak harus kita sendiri yang menjualnya. Kita bisa melibatkan orang lain, khususnya mereka yang mempunyai jaringan penjualan luas. Berbagai outlet penjualan produk konsumtif biasa menerima barang-barang dari luar outlet dengan sistem bagi hasil, titip jual atau konsinyasi.
Bahkan bukan tidak mungkin jika barangnya memang benar-benar dicari konsumen, maka toko atau outlet akanmembeli barang yang ditawarkan itu secara tunai Apabila produk yang dijual berkualitas baik dengan harga kompetitif, orang akan membeli. Kian banyak barang kita dijualkan orang lain, akan makin besar total penjualan. Jadi kita tidak mesti menjual barang dagangan sendiri tetapi bisa memanfaatkan tenaga atau outlet orang lain.
Bagaimana jika kita tidak memiliki uang untuk berbisnis tetapi mempunyai ide produk, jaringan penjualan dan atau pasar yang tersedia? Asalkan kita berani dan yakin serta dapat dipercaya, tentu tidak sulit menggandeng pemilik modal yang bersedia menggelontorkan dananya kepada kita. Inilah yang disebut dengan berbisnis dengan modal dari orang lain termasuk dari perbankan.
Di kalangan perguruan tinggi dewasa ini tersedia alokasi anggaran melalui program kewirausahaan mahasiswa (PKM). Kerja sama antara pemerintah dan universitas atas bisnis yang dirintis mahasiswa diwujudkan dalam bentuk ketersediaan dana. Sebagaimana pemerintah juga menyiapkan bantuan modal bagi para UMKM melalui program KUR (Kredit Usaha Rakyat).
Setelah program ini terealisasi diperlukan langkah selanjutnya, yakni kepeduliaan pemangku kepentingan seperti pemerintah, perbankan, KADIN dan pihak terkait untuk menumbuhkembangkan usaha-usaha UKM mahasiswa menjadi lebih berkembang dan dikelola secara profesional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar